Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Dulu Gelar Haji Pemantik Revolusi, Kini Sekadar Simbol Prestise Pribadi


Oleh: Neisa Hadhnah R.A.


Pada masa kolonial, nama-nama seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, dan Haji Misbach tak hanya mewakili perjuangan rakyat, tapi juga simbol bahwa ibadah haji mampu melahirkan kesadaran politik, kultural, dan spiritual yang menakutkan bagi penjajah. Mereka adalah para pejuang yang dengan atau tanpa gelar resmi telah menyerap semangat global Islam dan mengartikulasikannya dalam konteks lokal: membela tanah air.


Kolonialisme Belanda menyadari potensi ini. Dalam laporan-laporan resminya, terutama melalui orientalis Snouck Hurgronje, pemerintah Hindia Belanda menyebut para haji sebagai kelompok yang "berisiko tinggi" karena sering menjadi pemicu perlawanan dan pengkaderan semangat jihad di kalangan rakyat. Maka sejak awal abad ke-19, Belanda mewajibkan paspor haji, registrasi ketat, bahkan karantina. Tujuannya satu: mengawasi api semangat yang dibawa pulang dari Hijaz.


Namun hari ini, gelar haji justru mengalami transformasi. Ia menjadi simbol status sosial yang gemerlap. Mulai dari undangan tasyakuran berdesain elegan, rombongan keberangkatan dengan seragam khusus, hingga konten media sosial yang terkurasi rapi. Gelar yang dahulu menggugah perlawanan kini lebih sering digunakan untuk menegaskan kelas sosial.


Pergeseran makna ini bukan hanya soal gaya hidup. Ini cermin betapa nilai spiritual kita sering kali dikalahkan oleh narasi materialistik. Jika dulu berhaji berarti siap memimpin rakyat dalam kesulitan, kini kadang hanya jadi penanda siapa yang bisa memesan kursi prioritas dan mengunggah momen berdoa di Raudhah.


Indonesia hari ini memang tidak sedang dijajah secara fisik. Tapi mentalitas kita masih dibebani oleh penjajahane gaya baru: konsumtif, kompetitif, dan simbolik. Barangkali, kita perlu kembali belajar dari Haji Diponegoro: bahwa haji bukan tentang kemewahan perjalanan, tapi tentang kesiapan berjuang demi nilai yang lebih besar dari diri sendiri.

Comments