Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Tiba-tiba Pulang: Memetik Hikmah Kepergian



Kemarin, kita baru saja ditinggalkan oleh seorang sahabat, tanpa rencana dan tentu saja mendadak. Sebagian besar dari kita tentu masih tak percaya, tertegun heran dan mungkin sedikit tak rela. Tapi, jika Allah sudah menakdirkan, tak ada satu pun mahkluk yang dapat mencegahnya. 


Satu hal yang mesti kita ingat, kematian itu pasti datangnya, ibarat sebuah surprise yang mengagetkan sang penerima. Soal bahagia tidaknya, itu urusan persiapan. Seberapa jauh kita memperkirakan amal, cukupkah dia dibawa untuk menghadap, atau kita malah lalai oleh dunia yang fana ini.


Selayaknya seorang yang beriman, mati adalah gerbang di mana semua yang kita lakukan akan mulai dipereteli satu-satu pertanggungjawabannya, dicehcar pertanyaan tentang bagaimana kita habiskan waktu semasa hidup di dunia, seberapa sungguh kita menjalankan peran, memikul amanah, mengabdikan diri, berjuang dengan mengerahkan segala daya yang kita punya. Sudahkah kita di titik pengorbanan tanpa batas itu? 


Sampai, kita benar-benar siap dan setidaknya lulus menjawab pertanyaan Munkar-Nakir yang tak bisa dikarang jawabannya. Sebuah anugerah besar, manakala kita bisa kembali berpulang dalam keadaan terbaik: berjuang, bertugas, menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. 


Tapi, tak semua orang mendapatkan kesempatan kembali dalam keadaan terbaik semacam itu. Sebagian masih sibuk berjuang untuk duniawinya, menunda bahkan menolak saat disuguhi amanah, disodorkan tugas dan diajak kembali ke medan perjuangan yang sejati, untuk memastikan diri meninggal dalam dekapan ridha-Nya. Tak ayal, saat Izrail datang menjemput, hanya penyesalan tiada akhir yang tersisa. 


Padahal Allah telah menjelaskan semuanya, tentang hari esok yang akan kita hadapi bersama, akhirat kehidupan selanjutnya yang abadi. Bahkan saking cintanya Dia kepada kita, ditetapkanlah standar minimal kematian yang setidaknya menyelamatkan. 


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102).


Keadaan muslim "keberpasrahan penuh" menyerahkan segala urusan hidup, seraya mengupayakan menaati aturan-Nya dan menjalankan amanah dengan penuh dedikasi. Ini bukan tentang seberapa tinggi dan besar amanah yang diserahi, melainkan sejauh mana posisi kita menghadapkan diri. 


Pastikan setiap hari kita waspada, mawas diri dan hati-hati, karena Izrail siap kapan pun menjemput kita dalam waktu yang tak terduga. Maka setiap saat pula kewajiban kita untuk senantiasa menghamba, menjalankan amanah, menghitung langkah seberapa dekat kita dengan tanda penghuni surga atau neraka. Karena, mungkin kemarin dan hari ini bukanlah waktu kembali yang ditakdirkan untuk kita. Namun, esok hari adalah pasti, maka persiapan menjadi kunci: perbaiki diri, tunaikan amanah yang diberi karena kita tak tahu kapan akan kembali.

Comments