Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Tiba-tiba Pulang: Memetik Hikmah Kepergian



Kemarin, kita baru saja ditinggalkan oleh seorang sahabat, tanpa rencana dan tentu saja mendadak. Sebagian besar dari kita tentu masih tak percaya, tertegun heran dan mungkin sedikit tak rela. Tapi, jika Allah sudah menakdirkan, tak ada satu pun mahkluk yang dapat mencegahnya. 


Satu hal yang mesti kita ingat, kematian itu pasti datangnya, ibarat sebuah surprise yang mengagetkan sang penerima. Soal bahagia tidaknya, itu urusan persiapan. Seberapa jauh kita memperkirakan amal, cukupkah dia dibawa untuk menghadap, atau kita malah lalai oleh dunia yang fana ini.


Selayaknya seorang yang beriman, mati adalah gerbang di mana semua yang kita lakukan akan mulai dipereteli satu-satu pertanggungjawabannya, dicehcar pertanyaan tentang bagaimana kita habiskan waktu semasa hidup di dunia, seberapa sungguh kita menjalankan peran, memikul amanah, mengabdikan diri, berjuang dengan mengerahkan segala daya yang kita punya. Sudahkah kita di titik pengorbanan tanpa batas itu? 


Sampai, kita benar-benar siap dan setidaknya lulus menjawab pertanyaan Munkar-Nakir yang tak bisa dikarang jawabannya. Sebuah anugerah besar, manakala kita bisa kembali berpulang dalam keadaan terbaik: berjuang, bertugas, menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. 


Tapi, tak semua orang mendapatkan kesempatan kembali dalam keadaan terbaik semacam itu. Sebagian masih sibuk berjuang untuk duniawinya, menunda bahkan menolak saat disuguhi amanah, disodorkan tugas dan diajak kembali ke medan perjuangan yang sejati, untuk memastikan diri meninggal dalam dekapan ridha-Nya. Tak ayal, saat Izrail datang menjemput, hanya penyesalan tiada akhir yang tersisa. 


Padahal Allah telah menjelaskan semuanya, tentang hari esok yang akan kita hadapi bersama, akhirat kehidupan selanjutnya yang abadi. Bahkan saking cintanya Dia kepada kita, ditetapkanlah standar minimal kematian yang setidaknya menyelamatkan. 


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102).


Keadaan muslim "keberpasrahan penuh" menyerahkan segala urusan hidup, seraya mengupayakan menaati aturan-Nya dan menjalankan amanah dengan penuh dedikasi. Ini bukan tentang seberapa tinggi dan besar amanah yang diserahi, melainkan sejauh mana posisi kita menghadapkan diri. 


Pastikan setiap hari kita waspada, mawas diri dan hati-hati, karena Izrail siap kapan pun menjemput kita dalam waktu yang tak terduga. Maka setiap saat pula kewajiban kita untuk senantiasa menghamba, menjalankan amanah, menghitung langkah seberapa dekat kita dengan tanda penghuni surga atau neraka. Karena, mungkin kemarin dan hari ini bukanlah waktu kembali yang ditakdirkan untuk kita. Namun, esok hari adalah pasti, maka persiapan menjadi kunci: perbaiki diri, tunaikan amanah yang diberi karena kita tak tahu kapan akan kembali.

Comments