Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Tiba-tiba Pulang: Memetik Hikmah Kepergian



Kemarin, kita baru saja ditinggalkan oleh seorang sahabat, tanpa rencana dan tentu saja mendadak. Sebagian besar dari kita tentu masih tak percaya, tertegun heran dan mungkin sedikit tak rela. Tapi, jika Allah sudah menakdirkan, tak ada satu pun mahkluk yang dapat mencegahnya. 


Satu hal yang mesti kita ingat, kematian itu pasti datangnya, ibarat sebuah surprise yang mengagetkan sang penerima. Soal bahagia tidaknya, itu urusan persiapan. Seberapa jauh kita memperkirakan amal, cukupkah dia dibawa untuk menghadap, atau kita malah lalai oleh dunia yang fana ini.


Selayaknya seorang yang beriman, mati adalah gerbang di mana semua yang kita lakukan akan mulai dipereteli satu-satu pertanggungjawabannya, dicehcar pertanyaan tentang bagaimana kita habiskan waktu semasa hidup di dunia, seberapa sungguh kita menjalankan peran, memikul amanah, mengabdikan diri, berjuang dengan mengerahkan segala daya yang kita punya. Sudahkah kita di titik pengorbanan tanpa batas itu? 


Sampai, kita benar-benar siap dan setidaknya lulus menjawab pertanyaan Munkar-Nakir yang tak bisa dikarang jawabannya. Sebuah anugerah besar, manakala kita bisa kembali berpulang dalam keadaan terbaik: berjuang, bertugas, menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. 


Tapi, tak semua orang mendapatkan kesempatan kembali dalam keadaan terbaik semacam itu. Sebagian masih sibuk berjuang untuk duniawinya, menunda bahkan menolak saat disuguhi amanah, disodorkan tugas dan diajak kembali ke medan perjuangan yang sejati, untuk memastikan diri meninggal dalam dekapan ridha-Nya. Tak ayal, saat Izrail datang menjemput, hanya penyesalan tiada akhir yang tersisa. 


Padahal Allah telah menjelaskan semuanya, tentang hari esok yang akan kita hadapi bersama, akhirat kehidupan selanjutnya yang abadi. Bahkan saking cintanya Dia kepada kita, ditetapkanlah standar minimal kematian yang setidaknya menyelamatkan. 


"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali Imran [3]: 102).


Keadaan muslim "keberpasrahan penuh" menyerahkan segala urusan hidup, seraya mengupayakan menaati aturan-Nya dan menjalankan amanah dengan penuh dedikasi. Ini bukan tentang seberapa tinggi dan besar amanah yang diserahi, melainkan sejauh mana posisi kita menghadapkan diri. 


Pastikan setiap hari kita waspada, mawas diri dan hati-hati, karena Izrail siap kapan pun menjemput kita dalam waktu yang tak terduga. Maka setiap saat pula kewajiban kita untuk senantiasa menghamba, menjalankan amanah, menghitung langkah seberapa dekat kita dengan tanda penghuni surga atau neraka. Karena, mungkin kemarin dan hari ini bukanlah waktu kembali yang ditakdirkan untuk kita. Namun, esok hari adalah pasti, maka persiapan menjadi kunci: perbaiki diri, tunaikan amanah yang diberi karena kita tak tahu kapan akan kembali.

Comments