Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Lebaran dan pertanyaan "kapan nikah?"




Ketupat dan silaturahim menjadi hal yang identik dalam perayaan idulfitri. Bertemu keluarga dan sanak saudara untuk saling memaafkan dan bergembira merayakan pencapaian setelah menunaikan ibadah puasa selama satu bulan lamanya. 


Silaturahim: menyambungkan kasih sayang, jadi kunci dari setiap kunjung tanpa jeda, tautan hati yang saling memanggil dan tentu saja kali ini ditambah sinyal yang saling bertaut memecah jarak pemisah. Pertemuan yang jadi obat dari setiap rindu, hanya ungkapan kasih sayang, cinta dan kerinduan yang boleh menyeruak. Selain dari itu tentu bukanlah silaturahim.


Berbagai ruang tawa, canda dan tentu saja perenungan terbuka luas pada hari itu. Mereka yang biasanya sibuk bekerja, sampai lupa untuk bertegur sapa, pada hari itu bisa bengcengkrama dan mencurahkan banyak hal. Dan tentu saja mendapat jeda untuk sekedar beristirahat. 


Tapi, banyak pula ungkapan yang seharusnya tidak lahir. Tentu setiap kalian pasti pernah mengalaminya, terutama perempuan yang hari ini masih bahagia dengan kesendirian (baca: singlelillah). Dihujani dengan pertanyaan: "kapan nikah?", "kapan nyusul?" dan kapan-kapan lainnya. Beruntunglah kamu yang tidak pernah mendapati pertanyaan semacam itu. Silaturahim mu layak dinyatakan silaturahim yang sejati, yang menggembirakan tentunya.


Perkara seperti itu tak sepatutnya mengawali kisah kasih pertemuan keluarga dan sanak saudara. Ini sangat memungkinkan kerenggangan terjadi dan melukai banyak hati, karena kita sungguh tidak pernah tahu bagaimana mereka telah mengupayakan dan berjuang untuk terus hidup dan memberikan kehidupan. Apalagi jika kita tidak pernah sama sekali menawarkan bantuan. Ketika bertemu, malah menggores luka. 


Jawaban dari pertanyaan "kapan nikah?" adalah uraian panjang tentang bagaimana memenuhi setengah agama yang belum tentu utuh. Tentang bagaimana menyatukan dua jiwa dan dua keluarga dengan beragam perbedaan yang ada. Cerita tentang menemukan seseorang yang membuat kita merasakan bahwa bersamanya surga terasa lebih dekat. Maka barang tentu, tak dapat diselesaikan dalam satu jawaban singkat besok atau lusa.


Hanya mereka yang tahu jawaban pasti dari pertanyaan itu. Mereka yang tahu persis kapan mereka harus menikah, di waktu yang tepat dan bersama orang yang tepat pula. Bukan tentang cepat, tetapi tentang bagaimana bisa sehidup sesurga. Berhentilah bertanya dan melukai banyak nyawa, berkatalah yang baik atau diam.


Comments