Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Wisuda: Untold Story


Wisuda momentum yang di nanti mahasiswa tingkat akhir, beragam ekspektasi tertanam di sana. Ada rasa bahagia, haru bercampur aduk dengan duka.

Bahagia karena hasil berjuang selama studi menemui titik puncaknya, sedih manakala harus berpisah dengan kawan seperjuangan yang akan segera sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Haru karena ada persembahan hadiah kecil bagi orang tua yang tak kenal lelah berjuang mendukung dengan segala daya upaya. Momentum saat bergesernya tali toga dari kiri ke kanan: gelap menuju terang.

Pepatah terkadang benar, terlalu tinggi ekspektasi, pasti akan merasakan jatuh yang teramat. Banyak hal di luar ekspektasi terjadi, bahkan tak pernah terbayangkan. Moment sekali seumur hidup ini akan berakhir penuh kecewa dan luka: wisuda. 

Mulai dari pandemi, yang menyebabkan wisuda online, pelayanan kurang layak selama proses menuju wisuda, belum lagi soal hasil potret yang begitu mengecewakan, ditambah kurangnya apresiasi bagi mereka yang telah berjuang untuk menjadi yang terbaik di antara wisudawan/i terbaik lainnya.

 Seperti luka disayat terus menerus, ditaburi garam. Dan proses penyembuhannya adalah menuliskannya, jika tidak begitu hanya akan terus mengganggu pikiran. 

Hati anak mana yang tak sakit, tatkala orang tuanya yang telah mengupayakan datang dari jauh tetapi tak disediakan air seteguk pun untuk diminum pada agenda yang digadang-gadangkan begitu istimewa. Belum lagi soal baju toga, tanpa rasa bersalah, mereka hanya menawarkan almamater sebagai gantinya. Jangan tanya soal komunikasi, apa-apa yang dikeluhkan hanya berujung pada kesia-siaan. 


Tuhan, singkirkan apa yang terus mengganggu pikiran, saat manusia tidak dimanusiakan manusia lainnya, maka manusia sejati sudah barang tentu patah hatinya.

Comments