Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Wisuda: Untold Story


Wisuda momentum yang di nanti mahasiswa tingkat akhir, beragam ekspektasi tertanam di sana. Ada rasa bahagia, haru bercampur aduk dengan duka.

Bahagia karena hasil berjuang selama studi menemui titik puncaknya, sedih manakala harus berpisah dengan kawan seperjuangan yang akan segera sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Haru karena ada persembahan hadiah kecil bagi orang tua yang tak kenal lelah berjuang mendukung dengan segala daya upaya. Momentum saat bergesernya tali toga dari kiri ke kanan: gelap menuju terang.

Pepatah terkadang benar, terlalu tinggi ekspektasi, pasti akan merasakan jatuh yang teramat. Banyak hal di luar ekspektasi terjadi, bahkan tak pernah terbayangkan. Moment sekali seumur hidup ini akan berakhir penuh kecewa dan luka: wisuda. 

Mulai dari pandemi, yang menyebabkan wisuda online, pelayanan kurang layak selama proses menuju wisuda, belum lagi soal hasil potret yang begitu mengecewakan, ditambah kurangnya apresiasi bagi mereka yang telah berjuang untuk menjadi yang terbaik di antara wisudawan/i terbaik lainnya.

 Seperti luka disayat terus menerus, ditaburi garam. Dan proses penyembuhannya adalah menuliskannya, jika tidak begitu hanya akan terus mengganggu pikiran. 

Hati anak mana yang tak sakit, tatkala orang tuanya yang telah mengupayakan datang dari jauh tetapi tak disediakan air seteguk pun untuk diminum pada agenda yang digadang-gadangkan begitu istimewa. Belum lagi soal baju toga, tanpa rasa bersalah, mereka hanya menawarkan almamater sebagai gantinya. Jangan tanya soal komunikasi, apa-apa yang dikeluhkan hanya berujung pada kesia-siaan. 


Tuhan, singkirkan apa yang terus mengganggu pikiran, saat manusia tidak dimanusiakan manusia lainnya, maka manusia sejati sudah barang tentu patah hatinya.

Comments

Popular Posts