Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Wisuda: Untold Story


Wisuda momentum yang di nanti mahasiswa tingkat akhir, beragam ekspektasi tertanam di sana. Ada rasa bahagia, haru bercampur aduk dengan duka.

Bahagia karena hasil berjuang selama studi menemui titik puncaknya, sedih manakala harus berpisah dengan kawan seperjuangan yang akan segera sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Haru karena ada persembahan hadiah kecil bagi orang tua yang tak kenal lelah berjuang mendukung dengan segala daya upaya. Momentum saat bergesernya tali toga dari kiri ke kanan: gelap menuju terang.

Pepatah terkadang benar, terlalu tinggi ekspektasi, pasti akan merasakan jatuh yang teramat. Banyak hal di luar ekspektasi terjadi, bahkan tak pernah terbayangkan. Moment sekali seumur hidup ini akan berakhir penuh kecewa dan luka: wisuda. 

Mulai dari pandemi, yang menyebabkan wisuda online, pelayanan kurang layak selama proses menuju wisuda, belum lagi soal hasil potret yang begitu mengecewakan, ditambah kurangnya apresiasi bagi mereka yang telah berjuang untuk menjadi yang terbaik di antara wisudawan/i terbaik lainnya.

 Seperti luka disayat terus menerus, ditaburi garam. Dan proses penyembuhannya adalah menuliskannya, jika tidak begitu hanya akan terus mengganggu pikiran. 

Hati anak mana yang tak sakit, tatkala orang tuanya yang telah mengupayakan datang dari jauh tetapi tak disediakan air seteguk pun untuk diminum pada agenda yang digadang-gadangkan begitu istimewa. Belum lagi soal baju toga, tanpa rasa bersalah, mereka hanya menawarkan almamater sebagai gantinya. Jangan tanya soal komunikasi, apa-apa yang dikeluhkan hanya berujung pada kesia-siaan. 


Tuhan, singkirkan apa yang terus mengganggu pikiran, saat manusia tidak dimanusiakan manusia lainnya, maka manusia sejati sudah barang tentu patah hatinya.

Comments