Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Wisuda: Untold Story


Wisuda momentum yang di nanti mahasiswa tingkat akhir, beragam ekspektasi tertanam di sana. Ada rasa bahagia, haru bercampur aduk dengan duka.

Bahagia karena hasil berjuang selama studi menemui titik puncaknya, sedih manakala harus berpisah dengan kawan seperjuangan yang akan segera sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Haru karena ada persembahan hadiah kecil bagi orang tua yang tak kenal lelah berjuang mendukung dengan segala daya upaya. Momentum saat bergesernya tali toga dari kiri ke kanan: gelap menuju terang.

Pepatah terkadang benar, terlalu tinggi ekspektasi, pasti akan merasakan jatuh yang teramat. Banyak hal di luar ekspektasi terjadi, bahkan tak pernah terbayangkan. Moment sekali seumur hidup ini akan berakhir penuh kecewa dan luka: wisuda. 

Mulai dari pandemi, yang menyebabkan wisuda online, pelayanan kurang layak selama proses menuju wisuda, belum lagi soal hasil potret yang begitu mengecewakan, ditambah kurangnya apresiasi bagi mereka yang telah berjuang untuk menjadi yang terbaik di antara wisudawan/i terbaik lainnya.

 Seperti luka disayat terus menerus, ditaburi garam. Dan proses penyembuhannya adalah menuliskannya, jika tidak begitu hanya akan terus mengganggu pikiran. 

Hati anak mana yang tak sakit, tatkala orang tuanya yang telah mengupayakan datang dari jauh tetapi tak disediakan air seteguk pun untuk diminum pada agenda yang digadang-gadangkan begitu istimewa. Belum lagi soal baju toga, tanpa rasa bersalah, mereka hanya menawarkan almamater sebagai gantinya. Jangan tanya soal komunikasi, apa-apa yang dikeluhkan hanya berujung pada kesia-siaan. 


Tuhan, singkirkan apa yang terus mengganggu pikiran, saat manusia tidak dimanusiakan manusia lainnya, maka manusia sejati sudah barang tentu patah hatinya.

Comments