Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Sesiap Apasih Kamu?

 


Pernikahan merupakan hubungan dua insan yang saling memahami. Mereka siap menerima segala kekurangan dan melengkapi dengan kelebihan yang dimiliki keduanya. Tentu, ini bukan perkara mudah, jika keduanya tidak saling memahami pola hubungan seperti apa yang harus dijalani.


Setiap manusia, setidaknya akan melalui tiga tahap pola hubungan dalam kehidupan. Hal ini dapat dijadikan tolak ukur sesiap apa sih kamu menghadapi pola hubungan dalam pernikahan. 


Pertama, dependent adalah mereka yang masih bergantung pada manusia lain untuk proses berlangsung hidupnya, baik secara psikis maupun finansial. Relasi seperti terjadi pada bayi atau anak-anak yang bergantung pada orang tua. Dan tentu siapapun yang masih pada tahap ini sangat tidak disarankan untuk menikah, karena menyebabkan berbagai kekacauan dalam pernikahan, karena hanya bertumpu pada siapa yang harus mengasuh siapa.


Kedua, independent. Menurut Stephen Richards Covey ada tiga ciri yang dimiliki yakni (a) Proaktif (be proactive), segala yang mereka lakukan berangkat dari kesadaran pribadi, bergerak untuk mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan atau mengantisipasi hal yang buruk dalam hidup. Kemudian, (b) Punya rencana (begin with the end in mind), dalam pikirannya sudah tergambar dan siap menghadapi segala konflik yang terjadi, baik terkait diri, pasangan maupun keluarga. Mereka biasanya telah menyiapkan road map hidup untuk meraih mimpi, terutama goals keluarganya. Dan yang terakhir (c) Punya skala prioritas (put first things first), mereka sudah bisa menentukan mana yang penting dan mendesak, penting tetapi tidak mendesak dan tidak penting dan tidak pula mendesak. Kemampuan semacam ini, dapat mengurangi konflik kepentingan ego dua manusia yang bersatu. Jika hendak menikah, minimal kamu sudah di tahap ini, setidaknya sudah sedikit siap menghadapi beragam konflik kehidupan. 


Ketiga, Interdependent, mereka yang sudah di tahap ini memiliki tiga karakteristik dalam dirinya, yakni (a) Semua harus menang (think win-win), ego diri tidak lagi mendominasi, berupaya agar diri dan pasangannya merasa bahwa mendapatkan hal yang sama, tidak ada yang harus selalu mengalah atau bahkan menyerah, keduanya berada dalam keputusan yang sama menguntungkan, simpelnya sama-sama enak. Kemudian, (b) Memahami pasangan terlebih dahulu, baru meminta dipahami (to understand first, then to be understood). Mereka yang sudah di tahap ini, selalu siap mendengarkan sebelum berkomentar. Siap memahami pasangan secara utuh, sebelum meminta untuk dipahami pula tentang dirinya. Mendengar menjadi kunci pada tahap ini, segala konflik keluarga bisa selesai ketika siap saling mendengarkan dan baru kemudian memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang terakhir (c) bekerja sama (synergize). Mereka sudah siap saling mendukung dan berbagi peran dalam mewujudkan cita-cita pernikahan. Tak ada yang merasa berjalan sendirian ataupun ditinggalkan, keduanya saling mengisi dan memahami bahwa pernikahan dan keluarga adalah kontrak hidup untuk berjuang dan saling membahagiakan. Pada tahap ini, siapapun dianggap telah siap bahkan sangat siap untuk melangsungkan pernikahan. 

Comments