Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Menikah


Menikah itu seperti berbuka puasa, harus disegerakan, tentu setelah waktu berbuka tiba. Tetapi harus diingat, bahwa setiap kita memiliki waktu yang berbeda. Bisa jadi, kau sudah berbuka, sedangkan aku masih harus berpuasa.


Waktu adzan magrib kita berbeda, bisa beberapa detik, menit atau jam. Jadi, jangan pernah samakan waktu berbuka kita, kecuali jika mau duduk dalam satu meja. 


Begitu pun, dengan menikah. Setiap kita punya waktu yang tepat, bukan cepat. Tujuannya sama, tetapi melalui jalan dan waktu tempuh yang berbeda. 


Jangan terus bertanya kapan? dengan siapa ? atau hal lain yang sama menyebalkannya. Karena, kita tak pernah tahu bagaimana ia berjuang untuk hidup dan memberikan kehidupan. 


Bukankah hal yang kurang baik, ketika kita berbuka di hadapan orang yang berpuasa? 

Cukup do'akan !

Comments