Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Menikah


Menikah itu seperti berbuka puasa, harus disegerakan, tentu setelah waktu berbuka tiba. Tetapi harus diingat, bahwa setiap kita memiliki waktu yang berbeda. Bisa jadi, kau sudah berbuka, sedangkan aku masih harus berpuasa.


Waktu adzan magrib kita berbeda, bisa beberapa detik, menit atau jam. Jadi, jangan pernah samakan waktu berbuka kita, kecuali jika mau duduk dalam satu meja. 


Begitu pun, dengan menikah. Setiap kita punya waktu yang tepat, bukan cepat. Tujuannya sama, tetapi melalui jalan dan waktu tempuh yang berbeda. 


Jangan terus bertanya kapan? dengan siapa ? atau hal lain yang sama menyebalkannya. Karena, kita tak pernah tahu bagaimana ia berjuang untuk hidup dan memberikan kehidupan. 


Bukankah hal yang kurang baik, ketika kita berbuka di hadapan orang yang berpuasa? 

Cukup do'akan !

Comments