Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Menikah


Menikah itu seperti berbuka puasa, harus disegerakan, tentu setelah waktu berbuka tiba. Tetapi harus diingat, bahwa setiap kita memiliki waktu yang berbeda. Bisa jadi, kau sudah berbuka, sedangkan aku masih harus berpuasa.


Waktu adzan magrib kita berbeda, bisa beberapa detik, menit atau jam. Jadi, jangan pernah samakan waktu berbuka kita, kecuali jika mau duduk dalam satu meja. 


Begitu pun, dengan menikah. Setiap kita punya waktu yang tepat, bukan cepat. Tujuannya sama, tetapi melalui jalan dan waktu tempuh yang berbeda. 


Jangan terus bertanya kapan? dengan siapa ? atau hal lain yang sama menyebalkannya. Karena, kita tak pernah tahu bagaimana ia berjuang untuk hidup dan memberikan kehidupan. 


Bukankah hal yang kurang baik, ketika kita berbuka di hadapan orang yang berpuasa? 

Cukup do'akan !

Comments