Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Duka Kehilangan

 


Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un


Setiap kita adalah milik-Nya dan hanya akan kembali pada-Nya


Dengan tangan hampa? 

Itu pilihan, karena kita turun ke bumi tentu untuk sebuah alasan. 

Diamanahi tugas mulia, hanya untuk beribadah pada-Nya.


Sudah dilaksanakan ? 

Baru sadar ditugasi amanah mulia ?

Atau bahkan tidak berniat untuk melaksanakannya. 


Itu pilihan, kembali dengan tangan hampa atau dalam keadaan bahagia. Tapi ingat, selalu ada konsekuensi untuk setiap pilihan. 


Pastikan saat kau kembali, bawa serta laporan pertanggungjawaban mu. 

Soal isinya, pasti kau lebih tahu. 


Dan saya percaya, bahwa engkau telah siap menemui sang pemilik diri dengan seluruh amanah yang telah diupayakan. 


Duka mendalam atas kembalinya

Syaikh Ali Saleh Mohammed Ali Jaber

Semoga Allah senantiasa merahmatimu.


Duka sedalam cinta, semoga dapat bertemu dengan sang maha cinta.


Comments