Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

PATAH SAKIT


 PATAH SAKIT


Seorang teman pernah bertanya kepadaku, tentang patah dan sakit. Pernahkah kau mengalaminya ? Tentu jawabku. Karena apa ? Jatuh hati atau tak bisa memiliki ? Jatuh hati jawabku, dengan lirih sambil mengenang ia yang hingga kini aku cintai. 


Bukankah hal wajar, jika kita merasa patah lebih dalam lagi sakit, bahkan hingga mengecam dan menggelar aksi, ketika orang yang kita cintai dicaci-maki? Tanyaku padanya. 


Ouh tentu, itu bukti bahwa dirimu masih sangat mencintainya. Memastikan bahwa ia yang dicintai, tidak dilukai, lebih dalam lagi dibenci banyak manusia. Jawab temanku. 


Tentu, ini adalah bukti bahwa aku mencintainya. Tak rela bahkan merasa patah dan sakit tatkala ia dikucilkan, dijauhi banyak orang, dicaci-maki hingga dipukuli. Raga dan jiwa ini meronta, merasakan sakit yang teramat luar biasa. Seperti didera hal yang sama. Meski ia yang aku cintai, tak pernah merasa bahwa yang ia terima adalah sebuah kebencian. Ia selalu menjawab, bahwa mereka melakukan ini, hanya karena mereka tidak tahu, semoga nanti dari negeri ini lahir para pejuang tangguh yang membela agama kita. 


Bagaimana aku tidak jatuh hati padanya, bahkan sebelum pertemuan sejati. Aku akan selalu berusaha mencintainya. Tentu dengan belajar dan mencoba meneladaninya. 

Muhammadku Cintaku. 

Patah sakit, aku tanpamu, saat ada yang mencacimu. 


Comments