Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

PATAH SAKIT


 PATAH SAKIT


Seorang teman pernah bertanya kepadaku, tentang patah dan sakit. Pernahkah kau mengalaminya ? Tentu jawabku. Karena apa ? Jatuh hati atau tak bisa memiliki ? Jatuh hati jawabku, dengan lirih sambil mengenang ia yang hingga kini aku cintai. 


Bukankah hal wajar, jika kita merasa patah lebih dalam lagi sakit, bahkan hingga mengecam dan menggelar aksi, ketika orang yang kita cintai dicaci-maki? Tanyaku padanya. 


Ouh tentu, itu bukti bahwa dirimu masih sangat mencintainya. Memastikan bahwa ia yang dicintai, tidak dilukai, lebih dalam lagi dibenci banyak manusia. Jawab temanku. 


Tentu, ini adalah bukti bahwa aku mencintainya. Tak rela bahkan merasa patah dan sakit tatkala ia dikucilkan, dijauhi banyak orang, dicaci-maki hingga dipukuli. Raga dan jiwa ini meronta, merasakan sakit yang teramat luar biasa. Seperti didera hal yang sama. Meski ia yang aku cintai, tak pernah merasa bahwa yang ia terima adalah sebuah kebencian. Ia selalu menjawab, bahwa mereka melakukan ini, hanya karena mereka tidak tahu, semoga nanti dari negeri ini lahir para pejuang tangguh yang membela agama kita. 


Bagaimana aku tidak jatuh hati padanya, bahkan sebelum pertemuan sejati. Aku akan selalu berusaha mencintainya. Tentu dengan belajar dan mencoba meneladaninya. 

Muhammadku Cintaku. 

Patah sakit, aku tanpamu, saat ada yang mencacimu. 


Comments