Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

PATAH SAKIT


 PATAH SAKIT


Seorang teman pernah bertanya kepadaku, tentang patah dan sakit. Pernahkah kau mengalaminya ? Tentu jawabku. Karena apa ? Jatuh hati atau tak bisa memiliki ? Jatuh hati jawabku, dengan lirih sambil mengenang ia yang hingga kini aku cintai. 


Bukankah hal wajar, jika kita merasa patah lebih dalam lagi sakit, bahkan hingga mengecam dan menggelar aksi, ketika orang yang kita cintai dicaci-maki? Tanyaku padanya. 


Ouh tentu, itu bukti bahwa dirimu masih sangat mencintainya. Memastikan bahwa ia yang dicintai, tidak dilukai, lebih dalam lagi dibenci banyak manusia. Jawab temanku. 


Tentu, ini adalah bukti bahwa aku mencintainya. Tak rela bahkan merasa patah dan sakit tatkala ia dikucilkan, dijauhi banyak orang, dicaci-maki hingga dipukuli. Raga dan jiwa ini meronta, merasakan sakit yang teramat luar biasa. Seperti didera hal yang sama. Meski ia yang aku cintai, tak pernah merasa bahwa yang ia terima adalah sebuah kebencian. Ia selalu menjawab, bahwa mereka melakukan ini, hanya karena mereka tidak tahu, semoga nanti dari negeri ini lahir para pejuang tangguh yang membela agama kita. 


Bagaimana aku tidak jatuh hati padanya, bahkan sebelum pertemuan sejati. Aku akan selalu berusaha mencintainya. Tentu dengan belajar dan mencoba meneladaninya. 

Muhammadku Cintaku. 

Patah sakit, aku tanpamu, saat ada yang mencacimu. 


Comments

Popular Posts