Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

HAMBA SEJATI


 HAMBA SEJATI


Setiap kita, pastilah jadi hamba (baca : budak) dari apa yang kita cintai. Entah mungkin itu, harta, tahta, pasangan ataupun cinta itu sendiri. Mereka mungkin jadi tuhan yang menguasai seluruh pikiran dan langkah kita. Bahkan yang mengaku tak bertuhan pun sejatinya mereka menghamba pada dirinya sendiri dengan mempertahankan kebebasan pribadi untuk tidak diatur oleh siapapun. 


Bertuhan itu fitrah bagi kita, hanya perlu kesadaran penuh untuk memilih menjadi hamba dari tuhan mana. Banyak orang yang mempertahankan hal-hal yang bersifat material, tetapi tak sedikit pula yang mampu menjangkau hal yang maha abadi, immaterial, bahkan maha sempurna dari apa yang ada. 


Karena Dia, maha pencipta dari para pencipta, maha kuasa dari para penguasa yang ada hari ini, sang maha Cinta dari para pecinta yang hari ini hanya terbatas ruang dan waktu dalam mencintaimu. Dialah Tuhan sejati, yang mampu membolak-balikkan hati, tanpa bisa kita mengerti. Mampu mencintai dan diimani tanpa perlu alasan berarti, kehadiran kita hari ini adalah bentuk cinta kasihnya yang tak tertandingi. Cintanya kita hari ini, pada hal-hal selain Dia dalah bukti bahwa banyak yang mesti dibenahi dalam diri. 


Mari kita kembali menelisik jauh dalam lubuk hati sanubari, apakah benar kita hanya mencintai Dia yang selalu ada dan siap sedia? Atau menjadi hamba lain yang sebenarnya tak pantas untuk disandingkan dengan-Nya.


Kepasrahan totalitas adalah salah satu bukti bahwa kita mencintai apa yang membuat kita menjadi hamba-Nya. Jika Dia, dan tentu hanya Dia yang kita cintai, maka seluruh keinginan pribadi, seluruh harapan adalah penerimaan atas apa yang Dia takdirkan. Tak ada lagi kuasa atau bahkan ego diri, semuanya hanya mengikuti apa yang dikehendaki, memenuhi keinginan sang maha Cinta, hanya untuk berharap bahwa nanti akan dipertemukan dalam keabadian sejati. Bukankah pertemuan adalah obat paling ampuh dari dari mereka yang saling mencintai. 

Comments