Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

HAMBA SEJATI


 HAMBA SEJATI


Setiap kita, pastilah jadi hamba (baca : budak) dari apa yang kita cintai. Entah mungkin itu, harta, tahta, pasangan ataupun cinta itu sendiri. Mereka mungkin jadi tuhan yang menguasai seluruh pikiran dan langkah kita. Bahkan yang mengaku tak bertuhan pun sejatinya mereka menghamba pada dirinya sendiri dengan mempertahankan kebebasan pribadi untuk tidak diatur oleh siapapun. 


Bertuhan itu fitrah bagi kita, hanya perlu kesadaran penuh untuk memilih menjadi hamba dari tuhan mana. Banyak orang yang mempertahankan hal-hal yang bersifat material, tetapi tak sedikit pula yang mampu menjangkau hal yang maha abadi, immaterial, bahkan maha sempurna dari apa yang ada. 


Karena Dia, maha pencipta dari para pencipta, maha kuasa dari para penguasa yang ada hari ini, sang maha Cinta dari para pecinta yang hari ini hanya terbatas ruang dan waktu dalam mencintaimu. Dialah Tuhan sejati, yang mampu membolak-balikkan hati, tanpa bisa kita mengerti. Mampu mencintai dan diimani tanpa perlu alasan berarti, kehadiran kita hari ini adalah bentuk cinta kasihnya yang tak tertandingi. Cintanya kita hari ini, pada hal-hal selain Dia dalah bukti bahwa banyak yang mesti dibenahi dalam diri. 


Mari kita kembali menelisik jauh dalam lubuk hati sanubari, apakah benar kita hanya mencintai Dia yang selalu ada dan siap sedia? Atau menjadi hamba lain yang sebenarnya tak pantas untuk disandingkan dengan-Nya.


Kepasrahan totalitas adalah salah satu bukti bahwa kita mencintai apa yang membuat kita menjadi hamba-Nya. Jika Dia, dan tentu hanya Dia yang kita cintai, maka seluruh keinginan pribadi, seluruh harapan adalah penerimaan atas apa yang Dia takdirkan. Tak ada lagi kuasa atau bahkan ego diri, semuanya hanya mengikuti apa yang dikehendaki, memenuhi keinginan sang maha Cinta, hanya untuk berharap bahwa nanti akan dipertemukan dalam keabadian sejati. Bukankah pertemuan adalah obat paling ampuh dari dari mereka yang saling mencintai. 

Comments