Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

HAMBA SEJATI


 HAMBA SEJATI


Setiap kita, pastilah jadi hamba (baca : budak) dari apa yang kita cintai. Entah mungkin itu, harta, tahta, pasangan ataupun cinta itu sendiri. Mereka mungkin jadi tuhan yang menguasai seluruh pikiran dan langkah kita. Bahkan yang mengaku tak bertuhan pun sejatinya mereka menghamba pada dirinya sendiri dengan mempertahankan kebebasan pribadi untuk tidak diatur oleh siapapun. 


Bertuhan itu fitrah bagi kita, hanya perlu kesadaran penuh untuk memilih menjadi hamba dari tuhan mana. Banyak orang yang mempertahankan hal-hal yang bersifat material, tetapi tak sedikit pula yang mampu menjangkau hal yang maha abadi, immaterial, bahkan maha sempurna dari apa yang ada. 


Karena Dia, maha pencipta dari para pencipta, maha kuasa dari para penguasa yang ada hari ini, sang maha Cinta dari para pecinta yang hari ini hanya terbatas ruang dan waktu dalam mencintaimu. Dialah Tuhan sejati, yang mampu membolak-balikkan hati, tanpa bisa kita mengerti. Mampu mencintai dan diimani tanpa perlu alasan berarti, kehadiran kita hari ini adalah bentuk cinta kasihnya yang tak tertandingi. Cintanya kita hari ini, pada hal-hal selain Dia dalah bukti bahwa banyak yang mesti dibenahi dalam diri. 


Mari kita kembali menelisik jauh dalam lubuk hati sanubari, apakah benar kita hanya mencintai Dia yang selalu ada dan siap sedia? Atau menjadi hamba lain yang sebenarnya tak pantas untuk disandingkan dengan-Nya.


Kepasrahan totalitas adalah salah satu bukti bahwa kita mencintai apa yang membuat kita menjadi hamba-Nya. Jika Dia, dan tentu hanya Dia yang kita cintai, maka seluruh keinginan pribadi, seluruh harapan adalah penerimaan atas apa yang Dia takdirkan. Tak ada lagi kuasa atau bahkan ego diri, semuanya hanya mengikuti apa yang dikehendaki, memenuhi keinginan sang maha Cinta, hanya untuk berharap bahwa nanti akan dipertemukan dalam keabadian sejati. Bukankah pertemuan adalah obat paling ampuh dari dari mereka yang saling mencintai. 

Comments