Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Guruku
Pagi tadi, beberapa pesan masuk. Sebagian tentang pekerjaan, sebagian tentang kewajiban dan sebagian besar lagi tentang kisah salah seorang yang penting dan berpengaruh dalam hidup saya.
Pesan pada bagian terakhir adalah pesan yang cukup berharga bagi saya. Ini seperti mengingatkan dan menegur siapa kita ini sebenarnya. Tentu, bukan hanya saya. Tetapi kita.
Saya percaya bahwa kita hari ini, adalah kita yang luar biasa. Sampai pada titik yang telah dirancang dan dipersiapkan begitu lama. Namun, kita sering lupa, bahwa kita sebenarnya hanya puzzle dan serpihan kebajikan serta kebijakan dari orang-orang yang biasa kita panggil guru.
Guru, ibarat gugusan peluru. Setiap hari membuat kita semakin tajam membidik sasaran mimpi-mimpi. Mendampingi setiap kali luka parah menghampiri. Selalu siap sedia saat mimpi dari anak-anaknya mulai goyah, dimakan kekecewaan dan kekhawatiran akan potensi dirinya.
Jika kau tanya, sebaik apa mereka? Tentu, baik sekali. Sampai hari ini pun saya bersyukur dapat terus belajar hidup dan memberikan kehidupan dari mereka. Dan tentu dengan cara yang berbeda, kadang menjadi murid, kadang menjadi teman, kadang menjadi keluarga tetapi paling sering menjadi manusia dengan beragam permasalahannya.
Dan mereka tetap saja begitu, memilih menjadi guru dibandingkan dengan yang lainnya. Saya tahu deretan angka yang mereka terima setiap bulannya, tetapi saya lebih tahu betapa banyak cinta yang mereka suguhkan di ruang kelas, tidak dapat dinilai oleh apapun. Dan itulah yang paling berharga.
Saya hanya bisa terpekur dan bersyukur bahwa langkah hari ini tidak akan pernah mendapat jiwanya. Jika tak diajarkan kebenaran dan keberanian dari mereka. Kebenaran bahwa hidup harus tetap diperjuangkan dengan ilmu dan amal serta keberanian bahwa kita memang tak punya apa-apa, tetapi untuk bermimpi yang besar kita tak perlu merogoh kocek. Dan sampai kapanpun, mereka akan tetap begitu, menjadi orang paling bahagia saat kami menjadi siapa. Orang yang siap mengobati saat belum menjadi siapa.
Terimakasih untuk semua guru-guruku
Selamat Hari Guru Nasional, 2020
Ini dari muridmu, yang belum menjadi apa-apa.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment