Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Guruku



Pagi tadi, beberapa pesan masuk. Sebagian tentang pekerjaan, sebagian tentang kewajiban dan sebagian besar lagi tentang kisah salah seorang yang penting dan berpengaruh dalam hidup saya. 


Pesan pada bagian terakhir adalah pesan yang cukup berharga bagi saya. Ini seperti mengingatkan dan menegur siapa kita ini sebenarnya. Tentu, bukan hanya saya. Tetapi kita. 


Saya percaya bahwa kita hari ini, adalah kita yang luar biasa. Sampai pada titik yang telah dirancang dan dipersiapkan begitu lama. Namun, kita sering lupa, bahwa kita sebenarnya hanya puzzle dan serpihan kebajikan serta kebijakan dari orang-orang yang biasa kita panggil guru.


Guru, ibarat gugusan peluru. Setiap hari membuat kita semakin tajam membidik sasaran mimpi-mimpi. Mendampingi setiap kali luka parah menghampiri. Selalu siap sedia saat mimpi dari anak-anaknya mulai goyah, dimakan kekecewaan dan kekhawatiran akan potensi dirinya. 


Jika kau tanya, sebaik apa mereka? Tentu, baik sekali. Sampai hari ini pun saya bersyukur dapat terus belajar hidup dan memberikan kehidupan dari mereka. Dan tentu dengan cara yang berbeda, kadang menjadi murid, kadang menjadi teman, kadang menjadi keluarga tetapi paling sering menjadi manusia dengan beragam permasalahannya. 


Dan mereka tetap saja begitu, memilih menjadi guru dibandingkan dengan yang lainnya. Saya tahu deretan angka yang mereka terima setiap bulannya, tetapi saya lebih tahu betapa banyak cinta yang mereka suguhkan di ruang kelas, tidak dapat dinilai oleh apapun. Dan itulah yang paling berharga. 


Saya hanya bisa terpekur dan bersyukur bahwa langkah hari ini tidak akan pernah mendapat jiwanya. Jika tak diajarkan kebenaran dan keberanian dari mereka. Kebenaran bahwa hidup harus tetap diperjuangkan dengan ilmu dan amal serta keberanian bahwa kita memang tak punya apa-apa, tetapi untuk bermimpi yang besar kita tak perlu merogoh kocek. Dan sampai kapanpun, mereka akan tetap begitu, menjadi orang paling bahagia saat kami menjadi siapa. Orang yang siap mengobati saat belum menjadi siapa. 


Terimakasih untuk semua guru-guruku

Selamat Hari Guru Nasional, 2020

Ini dari muridmu, yang belum menjadi apa-apa.




Comments