Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Guruku



Pagi tadi, beberapa pesan masuk. Sebagian tentang pekerjaan, sebagian tentang kewajiban dan sebagian besar lagi tentang kisah salah seorang yang penting dan berpengaruh dalam hidup saya. 


Pesan pada bagian terakhir adalah pesan yang cukup berharga bagi saya. Ini seperti mengingatkan dan menegur siapa kita ini sebenarnya. Tentu, bukan hanya saya. Tetapi kita. 


Saya percaya bahwa kita hari ini, adalah kita yang luar biasa. Sampai pada titik yang telah dirancang dan dipersiapkan begitu lama. Namun, kita sering lupa, bahwa kita sebenarnya hanya puzzle dan serpihan kebajikan serta kebijakan dari orang-orang yang biasa kita panggil guru.


Guru, ibarat gugusan peluru. Setiap hari membuat kita semakin tajam membidik sasaran mimpi-mimpi. Mendampingi setiap kali luka parah menghampiri. Selalu siap sedia saat mimpi dari anak-anaknya mulai goyah, dimakan kekecewaan dan kekhawatiran akan potensi dirinya. 


Jika kau tanya, sebaik apa mereka? Tentu, baik sekali. Sampai hari ini pun saya bersyukur dapat terus belajar hidup dan memberikan kehidupan dari mereka. Dan tentu dengan cara yang berbeda, kadang menjadi murid, kadang menjadi teman, kadang menjadi keluarga tetapi paling sering menjadi manusia dengan beragam permasalahannya. 


Dan mereka tetap saja begitu, memilih menjadi guru dibandingkan dengan yang lainnya. Saya tahu deretan angka yang mereka terima setiap bulannya, tetapi saya lebih tahu betapa banyak cinta yang mereka suguhkan di ruang kelas, tidak dapat dinilai oleh apapun. Dan itulah yang paling berharga. 


Saya hanya bisa terpekur dan bersyukur bahwa langkah hari ini tidak akan pernah mendapat jiwanya. Jika tak diajarkan kebenaran dan keberanian dari mereka. Kebenaran bahwa hidup harus tetap diperjuangkan dengan ilmu dan amal serta keberanian bahwa kita memang tak punya apa-apa, tetapi untuk bermimpi yang besar kita tak perlu merogoh kocek. Dan sampai kapanpun, mereka akan tetap begitu, menjadi orang paling bahagia saat kami menjadi siapa. Orang yang siap mengobati saat belum menjadi siapa. 


Terimakasih untuk semua guru-guruku

Selamat Hari Guru Nasional, 2020

Ini dari muridmu, yang belum menjadi apa-apa.




Comments