Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Guruku



Pagi tadi, beberapa pesan masuk. Sebagian tentang pekerjaan, sebagian tentang kewajiban dan sebagian besar lagi tentang kisah salah seorang yang penting dan berpengaruh dalam hidup saya. 


Pesan pada bagian terakhir adalah pesan yang cukup berharga bagi saya. Ini seperti mengingatkan dan menegur siapa kita ini sebenarnya. Tentu, bukan hanya saya. Tetapi kita. 


Saya percaya bahwa kita hari ini, adalah kita yang luar biasa. Sampai pada titik yang telah dirancang dan dipersiapkan begitu lama. Namun, kita sering lupa, bahwa kita sebenarnya hanya puzzle dan serpihan kebajikan serta kebijakan dari orang-orang yang biasa kita panggil guru.


Guru, ibarat gugusan peluru. Setiap hari membuat kita semakin tajam membidik sasaran mimpi-mimpi. Mendampingi setiap kali luka parah menghampiri. Selalu siap sedia saat mimpi dari anak-anaknya mulai goyah, dimakan kekecewaan dan kekhawatiran akan potensi dirinya. 


Jika kau tanya, sebaik apa mereka? Tentu, baik sekali. Sampai hari ini pun saya bersyukur dapat terus belajar hidup dan memberikan kehidupan dari mereka. Dan tentu dengan cara yang berbeda, kadang menjadi murid, kadang menjadi teman, kadang menjadi keluarga tetapi paling sering menjadi manusia dengan beragam permasalahannya. 


Dan mereka tetap saja begitu, memilih menjadi guru dibandingkan dengan yang lainnya. Saya tahu deretan angka yang mereka terima setiap bulannya, tetapi saya lebih tahu betapa banyak cinta yang mereka suguhkan di ruang kelas, tidak dapat dinilai oleh apapun. Dan itulah yang paling berharga. 


Saya hanya bisa terpekur dan bersyukur bahwa langkah hari ini tidak akan pernah mendapat jiwanya. Jika tak diajarkan kebenaran dan keberanian dari mereka. Kebenaran bahwa hidup harus tetap diperjuangkan dengan ilmu dan amal serta keberanian bahwa kita memang tak punya apa-apa, tetapi untuk bermimpi yang besar kita tak perlu merogoh kocek. Dan sampai kapanpun, mereka akan tetap begitu, menjadi orang paling bahagia saat kami menjadi siapa. Orang yang siap mengobati saat belum menjadi siapa. 


Terimakasih untuk semua guru-guruku

Selamat Hari Guru Nasional, 2020

Ini dari muridmu, yang belum menjadi apa-apa.




Comments