Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Santri : Sepotong Kisah




 Selepas masa putih merah berlalu, pesantren jadi rumah kedua bagiku. Bahkan mungkin, sampai hari ini pun tetap begitu. Rumah baru bagi setiap orang baru, dari beragam daerah yang sama-sama menangis di gerbang pintu. Hanya karena orang-orang yang kita cinta pergi berlalu, yups orang tua kita. 


Semenjak itu, gelar baru didapu, santri. Dan ini tentu bukan soal yang mudah. Ada beragam tantangan, peraturan, cobaan bahkan konflik perasaan. Kita tahu bukan, bahwa semuanya sedang berproses untuk menjadi baik. Bukan hanya merasa baik tetapi harus terpastikan baik. 


Santri, gelar yang disematkan pada mereka yang belajar Islam secara mendalam, ahli ibadah dan tentu saja orang-orang yang shalih yang mewujudkan keshalihan sosial. Cukup berat bukan? 


Apalagi jika dibacanya begini "Sun3 : Tiga Mentari". Harus mampu memberikan banyak pencerahan dan tentu saja tahan ujian dan cobaan melebihi tiga terik mentari. 

Satu mentari untuk menerangi dirinya, mentari kedua untuk menerangi negaranya dan mentari ketiga untuk menerangi dunia. 


Tentu, ini menjadi tanggungjawab yang luar biasa. Misi suci yang dibangun dengan beragam bekal keilmuan dan akhlak menjadi cerminan. Kita tak lagi hanya bicara tentang pribadi yang baik kepada sesama. Lebih dari itu, tentang kebaikan yang menghegemoni masyarakat dunia. Menjadi budaya bagi mereka yang akan, sedang atau telah menuntutaskan mengaji di penjara suci (baca : pesantren). 


Tapi ketahuilah, bahwa mengaji dan mengkaji hanya bisa selesai setelah nyawa berpulang kepada pemiliknya. Mari terus tebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan sebagai bentuk perhormatan pada diri dan ajaran yang telah diterima.



Selamat Hari Santri Nasional

22 Oktober 2020

Santri Sehat, Indonesia Kuat


Comments