Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Santri : Sepotong Kisah




 Selepas masa putih merah berlalu, pesantren jadi rumah kedua bagiku. Bahkan mungkin, sampai hari ini pun tetap begitu. Rumah baru bagi setiap orang baru, dari beragam daerah yang sama-sama menangis di gerbang pintu. Hanya karena orang-orang yang kita cinta pergi berlalu, yups orang tua kita. 


Semenjak itu, gelar baru didapu, santri. Dan ini tentu bukan soal yang mudah. Ada beragam tantangan, peraturan, cobaan bahkan konflik perasaan. Kita tahu bukan, bahwa semuanya sedang berproses untuk menjadi baik. Bukan hanya merasa baik tetapi harus terpastikan baik. 


Santri, gelar yang disematkan pada mereka yang belajar Islam secara mendalam, ahli ibadah dan tentu saja orang-orang yang shalih yang mewujudkan keshalihan sosial. Cukup berat bukan? 


Apalagi jika dibacanya begini "Sun3 : Tiga Mentari". Harus mampu memberikan banyak pencerahan dan tentu saja tahan ujian dan cobaan melebihi tiga terik mentari. 

Satu mentari untuk menerangi dirinya, mentari kedua untuk menerangi negaranya dan mentari ketiga untuk menerangi dunia. 


Tentu, ini menjadi tanggungjawab yang luar biasa. Misi suci yang dibangun dengan beragam bekal keilmuan dan akhlak menjadi cerminan. Kita tak lagi hanya bicara tentang pribadi yang baik kepada sesama. Lebih dari itu, tentang kebaikan yang menghegemoni masyarakat dunia. Menjadi budaya bagi mereka yang akan, sedang atau telah menuntutaskan mengaji di penjara suci (baca : pesantren). 


Tapi ketahuilah, bahwa mengaji dan mengkaji hanya bisa selesai setelah nyawa berpulang kepada pemiliknya. Mari terus tebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan sebagai bentuk perhormatan pada diri dan ajaran yang telah diterima.



Selamat Hari Santri Nasional

22 Oktober 2020

Santri Sehat, Indonesia Kuat


Comments