Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Santri : Sepotong Kisah




 Selepas masa putih merah berlalu, pesantren jadi rumah kedua bagiku. Bahkan mungkin, sampai hari ini pun tetap begitu. Rumah baru bagi setiap orang baru, dari beragam daerah yang sama-sama menangis di gerbang pintu. Hanya karena orang-orang yang kita cinta pergi berlalu, yups orang tua kita. 


Semenjak itu, gelar baru didapu, santri. Dan ini tentu bukan soal yang mudah. Ada beragam tantangan, peraturan, cobaan bahkan konflik perasaan. Kita tahu bukan, bahwa semuanya sedang berproses untuk menjadi baik. Bukan hanya merasa baik tetapi harus terpastikan baik. 


Santri, gelar yang disematkan pada mereka yang belajar Islam secara mendalam, ahli ibadah dan tentu saja orang-orang yang shalih yang mewujudkan keshalihan sosial. Cukup berat bukan? 


Apalagi jika dibacanya begini "Sun3 : Tiga Mentari". Harus mampu memberikan banyak pencerahan dan tentu saja tahan ujian dan cobaan melebihi tiga terik mentari. 

Satu mentari untuk menerangi dirinya, mentari kedua untuk menerangi negaranya dan mentari ketiga untuk menerangi dunia. 


Tentu, ini menjadi tanggungjawab yang luar biasa. Misi suci yang dibangun dengan beragam bekal keilmuan dan akhlak menjadi cerminan. Kita tak lagi hanya bicara tentang pribadi yang baik kepada sesama. Lebih dari itu, tentang kebaikan yang menghegemoni masyarakat dunia. Menjadi budaya bagi mereka yang akan, sedang atau telah menuntutaskan mengaji di penjara suci (baca : pesantren). 


Tapi ketahuilah, bahwa mengaji dan mengkaji hanya bisa selesai setelah nyawa berpulang kepada pemiliknya. Mari terus tebarkan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan sebagai bentuk perhormatan pada diri dan ajaran yang telah diterima.



Selamat Hari Santri Nasional

22 Oktober 2020

Santri Sehat, Indonesia Kuat


Comments