Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Kisah Seorang Makhluk : Sebuah Penyesalan

 


Yups, hari ini aku akan berbagi kisah baik. Tentang seseorang yang luar biasa dan jadi tauladanku dalam membaca. Tentu, jangan kira ia sudah paruh baya atau tak berdaya. Usianya tak beda jauh dariku, hanya terpaut 2 tahun. Mungkin, aku lupa persisnya. 

Aku pertama kali melihatnya dalam ruang diskusi yang cukup panjang. Seringkali, aku berbeda pendapat dengannya. Terlihat seperti saling bermusuhan. Namun, beberapa kali dalam irama argumen yang sama.

Semarang, tepatnya kota selanjutnya. Aku tak mau menyebutnya, takut menuai rindu. Sebenarnya, aku mungkin lebih cocok jadi lawan debatnya. Dibanding dengan teman diskusi. Ahh... orang seperti dia, mana bisa bicara lembut padaku, selain karena masalah kultur dan tabiatnya begitu. Ia, memang dianugerahi suara yang mampu memprovokasi siapapun. Tentu dalam hal baik. 

Setiap argumen yang ia keluarkan, disertai referensi, tak ada bedanya dengan catatan kaki. Ia, lengkap dengan halaman bukunya. Aku kira, ia hanya akan berbicara padaku selama forum berlangsung. Ternyata, dia sama dengan temanku yang lain. Bisa bicara selayaknya manusia biasa. Tanpa prolog panjang soal teori. 

Hingga akhirnya, kami bertemu pada titik yang sama. Tepatnya, mencintai buku yang sama. Keluarlah semua isi kepalanya soal tulisan yang sama-sama kita cintai. Aku kira ini akan berakhir sampai disini. Ternyata tetap berlanjut hingga forum selesai. Tepat, 3 hari sebelum forum itu berakhir.

Aku salut kepadanya, satu hari bisa melahap satu buku. Porsi makan dan bacanya sama. Hanya satu kali. Aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa? Tubuhnya memang kurus, hingga aku percaya bahwa dia hanya satu kali makan dalam sehari. Tapi, aku lebih percaya, bahwa ia lebih banyak membaca dibandingkan mengisi perut. 

Darimana? dari tulisan-tulisannya, dialektika serta topik awal yang selalu aku ajukan, ia tuntaskan dengan gagasan apik. Tentu, mana mungkin, ini bisa hanya dibangun dalam waktu satu minggu. Butuh beribu rembulan untuk melahap beragam informasi tersebut.

Tapi, yang aku sesali sampai hari ini, kenapa aku tak bertanya bagaimana ia melakukannya? merelakan perutnya kosong dan isi kepalanya penuh, bahkan terlalu penuh. Ahh, sesalku. Setidaknya aku berterima kasih. Ia sudah membantuku, untuk kembali nyalakan api semangat tetap mencintai buku. Hampir padam. Hampir....... nyaris..........

Aku berdoa semoga ia membacanya, dan menjawab pertanyaan penyesalanku. 

Semoga...... 

Do'a terbaik kembali berdialektika

Comments