Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Kisah Seorang Makhluk : Sebuah Penyesalan

 


Yups, hari ini aku akan berbagi kisah baik. Tentang seseorang yang luar biasa dan jadi tauladanku dalam membaca. Tentu, jangan kira ia sudah paruh baya atau tak berdaya. Usianya tak beda jauh dariku, hanya terpaut 2 tahun. Mungkin, aku lupa persisnya. 

Aku pertama kali melihatnya dalam ruang diskusi yang cukup panjang. Seringkali, aku berbeda pendapat dengannya. Terlihat seperti saling bermusuhan. Namun, beberapa kali dalam irama argumen yang sama.

Semarang, tepatnya kota selanjutnya. Aku tak mau menyebutnya, takut menuai rindu. Sebenarnya, aku mungkin lebih cocok jadi lawan debatnya. Dibanding dengan teman diskusi. Ahh... orang seperti dia, mana bisa bicara lembut padaku, selain karena masalah kultur dan tabiatnya begitu. Ia, memang dianugerahi suara yang mampu memprovokasi siapapun. Tentu dalam hal baik. 

Setiap argumen yang ia keluarkan, disertai referensi, tak ada bedanya dengan catatan kaki. Ia, lengkap dengan halaman bukunya. Aku kira, ia hanya akan berbicara padaku selama forum berlangsung. Ternyata, dia sama dengan temanku yang lain. Bisa bicara selayaknya manusia biasa. Tanpa prolog panjang soal teori. 

Hingga akhirnya, kami bertemu pada titik yang sama. Tepatnya, mencintai buku yang sama. Keluarlah semua isi kepalanya soal tulisan yang sama-sama kita cintai. Aku kira ini akan berakhir sampai disini. Ternyata tetap berlanjut hingga forum selesai. Tepat, 3 hari sebelum forum itu berakhir.

Aku salut kepadanya, satu hari bisa melahap satu buku. Porsi makan dan bacanya sama. Hanya satu kali. Aku juga tidak mengerti, bagaimana bisa? Tubuhnya memang kurus, hingga aku percaya bahwa dia hanya satu kali makan dalam sehari. Tapi, aku lebih percaya, bahwa ia lebih banyak membaca dibandingkan mengisi perut. 

Darimana? dari tulisan-tulisannya, dialektika serta topik awal yang selalu aku ajukan, ia tuntaskan dengan gagasan apik. Tentu, mana mungkin, ini bisa hanya dibangun dalam waktu satu minggu. Butuh beribu rembulan untuk melahap beragam informasi tersebut.

Tapi, yang aku sesali sampai hari ini, kenapa aku tak bertanya bagaimana ia melakukannya? merelakan perutnya kosong dan isi kepalanya penuh, bahkan terlalu penuh. Ahh, sesalku. Setidaknya aku berterima kasih. Ia sudah membantuku, untuk kembali nyalakan api semangat tetap mencintai buku. Hampir padam. Hampir....... nyaris..........

Aku berdoa semoga ia membacanya, dan menjawab pertanyaan penyesalanku. 

Semoga...... 

Do'a terbaik kembali berdialektika

Comments