Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Kau : Rumit dan Sederhana

 



Kau, Rumit dan sederhana 

Ada hal yang kadang begitu sederhana, namun mampu membuat luka lebar menganga.

Ada pula hal yang begitu rumit, malah mampu membuka sekelumit rasa dan membahagiakan.

Butuh kesadaran luar biasa untuk mengukur diri, ya sederhana bagi kita tentu akan berbeda dalam kacamata pandang manusia lain, begitu pun sebaliknya.

Kau tahu dari mana rumit lahir?

Kau tahu tidak dari mana sederhana lahir?

Tidakkah kau tahu, keduanya bisa jadi bahagiamu ?

Rumit dilahirkan dari orangtua yang papa dan lupa bahwa masalah bagi dirinya sungguh sangatlah kecil, masalahnya dia tak pernah mau menoleh dan sedikit saja menelisik betapa pedihnya hidup manusia lain.

Lalu, siapa yang melahirkan sederhana ?

Mereka lahir pula dari orangtua papa namun tak lupa bahwa masih banyak hal yang patut untuk disyukuri dalam hidup.

Keduanya lahir dari rahim papa yang sama, lalu mengapa berbeda ?

Itu, masalahnya, kau tak pernah mau melangkah dan bertanya dimana rumit dan sederhana.

Lalu, dimana rumit dan sederhana? 

Mereka lahir dari pikiranmu, berdamailah !

Buat mereka berdua terlahir sebagai bahagiamu, sudahi segala yang kau anggap rumit dan belajarlah, bahwa sebenarnya rumit dapat mendekatkan bahagia padamu.


Comments