Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Hujan dan Rindu : Sebuah Puisi tentang Rasa Bertamu Takdir

                             



                                Langit, 19 November 2019

Pemberontak 

Aku tak tahu siapa dirimu

Menyapa saja, diriku tak mampu

Seperti direnggut seluruh nyaliku saat kau mengada

Aku tak tahu siapa dirimu

Berani sekali kau masuk dan menerjang benteng hati yang sudah dijaga berpuluh-puluh tahun lalu

Meruntuhkan tembok untuk menolak dicinta dan mencinta

Lancang ! Kau berlari kencang tanpa pernah menyapa sebagai permulaan jumpa

Butuh dua kali bertemu kau mampu utarakan cinta

Rasanya kali ini, aku memang kalah

Tak bisa menyerah untuk tidak menerimamu

Selamat datang di puing-puing reruntuhan hati, 

Aku bahagia akhirnya ada yang mampu menerobos



Kisah senja dan hujan

Comments

Popular Posts