Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Hujan dan Rindu : Sebuah Puisi tentang Rasa Bertamu Takdir

                             



                                Langit, 19 November 2019

Pemberontak 

Aku tak tahu siapa dirimu

Menyapa saja, diriku tak mampu

Seperti direnggut seluruh nyaliku saat kau mengada

Aku tak tahu siapa dirimu

Berani sekali kau masuk dan menerjang benteng hati yang sudah dijaga berpuluh-puluh tahun lalu

Meruntuhkan tembok untuk menolak dicinta dan mencinta

Lancang ! Kau berlari kencang tanpa pernah menyapa sebagai permulaan jumpa

Butuh dua kali bertemu kau mampu utarakan cinta

Rasanya kali ini, aku memang kalah

Tak bisa menyerah untuk tidak menerimamu

Selamat datang di puing-puing reruntuhan hati, 

Aku bahagia akhirnya ada yang mampu menerobos



Kisah senja dan hujan

Comments